Lestarikan Budaya Lewat Kebaya


  • Lestarikan Budaya Lewat Kebaya
    Happy Salma menggunakan kebaya kurung khas Minang, dengan songket dan selendang. (Foto: Dok. @armanfebryan/instagram)

    Kebaya adalah identitas. Berkebaya bukan hanya menggunakan pakaian biasa, tetapi mencerminkan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Ada banyak jenis kebaya. Setiap jenis mencirikan daerah asalnya dan mencerminkan keberagaman latar belakang. 

    Kebaya, secara umum memang digunakan di Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Istilah “kebaya” berasal dari kata serapan Arab, yaitu qaba yang artinya pakaian. Sejarah mencatat, perkembangan kebaya terjadi sekitar abad ke-15 sampai 16. 




    hari kebaya nasional, berkebaya, budaya

    (Laura Basuki menggunakan kebaya encim dan kain batik Sejauh Mata Memandang Foto: Dok. @armanfebryan/Instagram)


    Ada banyak model kebaya yang populer, seperti Kebaya Encim, Kebaya Nyonya, Kebaya Kutubaru, Kebaya Kurung, Kebaya Bali, dan masih banyak lagi. Di berbagai daerah, campuran style sangat mungkin terjadi, begitu juga dengan nama-nama yang berbeda.

    Stigma berkebaya


    Hal yang pertama kali terpikirkan tentang kebaya adalah baju yang dipakai oleh nenek kita. Ada anggapan kalau kebaya itu terkesan tua. Begitu pula dengan anggapan kebaya hanya untuk pakaian formal dan acara-acara penting. Padahal, di beberapa daerah seperti Yogyakarta dan Bali, penggunaan kebaya memang sudah umum. Hampir setiap hari mereka menggunakan kebaya. Secara tidak langsung, kebaya juga sudah melekat dan jadi pilihan baju sehari-hari mereka. 


    Generasi muda jaga kelestarian kebaya

    kebaya, luthesa, hari kebaya nasional

    (Luthesa di Festival Film Indonesia 2023 menggunakan "Ingatan" TOTON 2024 Collection. Foto: Dok. @snap.nuel/Instagram)

    Demi mengembalikan jiwa berkebaya, generasi muda hari ini menginisiasi kepeduliannya lewat internet. Berkebaya hari ini jadi tren fashion baru. Menolak dianggap kuno, anak muda menunjukkan bahwa kebaya itu tidak lekang waktu. Pemakaian kebaya juga justru sangat fleksibel. Kita bisa bebas mix-and-match dengan rok kain atau jeans. Banyak juga yang memadankan kebaya dengan tren-tren modern seperti boots, high waisted jeans, cargo pants, dan rok.

    Tren berkebaya hari ini makin ramai lewat peran sosial media. Lewat satu postingan saja, kita bisa menginspirasi dan mengajak orang lain untuk ikut memakai kebaya. Ajakan dan lewat media sosial sangat penting untuk menumbuhkan kembali kepercayaan diri untuk berkebaya.


    (Baca juga: Kebaya Kala Kini, Film Pendek Representasi Kebaya Indonesia)


    Memberdayakan lokalitas

    lokal, budaya, kebaya

    (Berbagai macam kebaya di Pasar Triwindu Solo. Foto: Dok. raniaayamin/instagram) 

    Bicara soal kebaya tidak bisa lepas dari garmen pakaian, limbah fesyen, dan pengrajinnya. Untuk membuat suatu kebaya tentu tidak mudah, apalagi harus membertimbangkan bahan dan kualitas. Oleh karena itu, penting juga untuk memberdayakan pengusaha-pengusaha lokal di bidang fesyen atau aksesoris. Dengan membeli kebaya dari pengrajin lokal, ini sangat membantu untuk melestarikan budaya bangsa dan berkontribusi untuk perkembangan ekonomi lokal. Jangan lupa juga untuk mempertimbangkan bisnis yang memegang nilai keberlanjutan dan slow fashion agar limbah kainnya dapat dipertanggungjawabkan dengan jelas. Beberapa brand fashion kebaya lokal adalah Toton The Label, Lulu Lutfi Labibi, Ghea Fashion Studio, Sejauh Mata Memandang, Biyan, dan masih banyak lagi.


    (Baca juga: 7 Rekomendasi Ballet Flats Yang Cantik dan Menggemaskan!)


    Saat Hari Kebaya Nasional diperingati setiap tanggal 24 Juli, kita diajak untuk merayakan dan terus melestarikan apa yang menjadi identitas bangsa. Dengan berkebaya, kita tidak hanya berpakaian, tetapi menunjukkan sebuah nilai sebagai wanita Indonesia. Selamat Hari Kebaya Nasional!


    (Penulis: Katarina Dian)





 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below