WOTY 2020: Kesibukan Happy Salma Selama Pandemi


  • WOTY 2020: Kesibukan Happy Salma Selama Pandemi
    Cerita Happy Salma tentang kesibukannya selama pandemi. (Foto: Dok. Instagram/happysalma)

    Aktris, model, sekaligus penulis Happy Salma dikenal melalui perannya dalam berbagai film layar lebar, seperti Gie, Rectoverso, dan 7 Hati, 7 Cinta, 7 Wanita. Namun, namanya juga dikenal di kalangan seniman di Indonesia. Memproduksi Sandiwara Sastra, sebuah karya sastra berupa audio yang diadaptasi dari berbagai karya sastra, menjadi salah satu kesibukan Happy Salma selama pandemi.


    (Baca Juga: Cerita Happy Salma Tentang Di Balik Layar Sandiwara Sastra)




    Sandiwara Sastra diolah dalam bentuk podcast Budaya Kita yang dapat didengarkan di Spotify dan mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) untuk menjangkau daerah-daerah yang kurang akrab dengan dunia digital.


    Pertama kali diluncurkan pada Juli lalu, produksinya melibatkan 27 selebritas, seperti Nicholas Saputra, Christine Hakim, Najwa Shihab, Tara Basro, Rio Dewanto, Maudy Koesnaedi, hingga Arswendy Bening Swara. Kepribadian yang sesuai dan karakter selebritas yang memiliki keinginan untuk berproses dalam memahami, mempelajari, dan memproduksi karya sastra ini menjadi beberapa hal yang diperhatikan dalam pemilihan karakternya.


    Dalam sebuah wawancara untuk Her World Women of the Year 2020, Happy Salma bercerita bahwa proyek ini diproduksi untuk memperkenalkan generasi muda pada karya-karya sastra pujangga Indonesia.


    “Secara keseluruhan, saya puas dengan hasilnya. Meskipun jika dipikir ulang, selalu saja ada kekurangan yang perlu diperbaiki. Setiap episode selalu kami evaluasi supaya episode berikutnya lebih baik,” tuturnya.


    Wanita kelahiran 1980 ini juga mengatakan bahwa Sandiwara Sastra telah menjadi project yang dicita-citakan selama dua tahun terakhir dan baru terlaksanakan saat pandemi. Menurutnya, pendengaran merupakan suatu hal yang penting untuk dilatih karena sering kali seseorang lebih terfokus pada penglihatan.


    Project ini tidak dilakukannya seorang diri, melainkan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu materi belajar yang diwajibkan bagi siswa SMA dan mahasiswa.


    Baginya, tantangan yang paling sulit dalam mengerjakan project ini adalah kesediaan hati untuk berkomunikasi dengan banyak orang, berurusan dengan izin penerbit dan menyatukan teman-teman selebritas. Ia menanamkan kepada teman-teman selebritas untuk mengerjakan hal ini dengan dilandaskan kesadaran untuk membantu literasi masyarakat, mengangkat martabat sastra Indonesia sebagai suatu hal yang penting, dan menumbuhkan empati dalam diri.


    Secara keseluruhan terdapat 10 judul karya sastra yang diadaptasi ke bentuk audio dalam Sandiwara Sastra, di antaranya adalah Mencari Herman karya Dewi Lestari, Orang-Orang Oetimu karya Felix K. Nesi, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, dan Cerita dari Jakarta karya Pramoedya Ananta Toer.


    Selain memproduksi Sandiwara Sastra, kecintaan Happy Salma terhadap dunia sastra juga membawanya untuk merintis bisnis perhiasan bersama Sri Luce Rusna dan Franka Makarim, yakni Tulola. Bisnis tersebut dibuatnya sejak membuat buku biografi tentang Desak Nyoman Suarti di mana dalam buku tersebut banyak bercerita tentang motif-motif Nusantara dalam perhiasan.


    (Baca Juga: Peluncuran Karya Koleksi Art-Wear Tulola Terbaru)


    "Saya memacu Sri agar lebih percaya diri sebagai seorang desainer perhiasan yang tidak saja hanya menerima pesanan dari brand asing," ujarnya.


    Ia membuat konsep dari sejarah, puisi, atau lagu-lagu populer Nusantara yang diterjemahkan ke dalam desain perhiasan oleh Sri.


    Bagi Happy Salma, sesama wanita harus saling menguatkan, terutama karena wanita banyak dibebankan urusan domestik, seperti mengurus keluarga, mencari nafkah, dan tuntutan dari pihak suami, serta adat.



    (Penulis: Aurelia Gracia)




 

Related Articles

Advertisement - Continue Reading Below