-
Di banyak ruang profesional, penampilan sering kali menjadi kesan pertama yang terbentuk sebelum kemampuan dan pengalaman seseorang sempat terlihat. Cara berpakaian, grooming, hingga bagaimana seseorang membawa diri kerap memengaruhi persepsi orang lain.
Namun, bagi Naomi Julia Soegianto, womenpreneur sekaligus pendiri NJS Gold, penampilan bukanlah soal memenuhi standar kecantikan tertentu. Ia memandang penampilan sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang dapat menjadi kekuatan bagi perempuan untuk membangun kepercayaan diri, profesionalisme, dan personal branding, tanpa harus mengorbankan nilai, karakter, maupun kualitas diri yang sesungguhnya.
Kesan pertama masih berpengaruhNaomi menilai hal pertama yang sering terbaca dari seseorang adalah kerapian, bukan kecantikan fisik. Penampilan yang terawat menunjukkan respek terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dalam konteks profesional, hal ini dapat menjadi nilai tambah sederhana. Berpakaian sesuai situasi, tampil rapi, dan memperhatikan detail kecil memberi sinyal bahwa seseorang siap dan serius terhadap perannya. Namun, penting dipahami bahwa first impression hanya membuka percakapan. Ia bukan penentu akhir.
(Naomi Julia Soegianto. Foto: Gustama Pandu. Pengarah Gaya: Girah Ababyl. Asisten Pengarah Gaya: Zainab Lukman. Busana: Jeffry Tan. Perhiasan: NJS Gold Manufacture)
Perlukah kita mendefinisikan ulang makna cantik?
Naomi mengaku sejak kecil dibesarkan dengan nilai bahwa inner beauty jauh lebih penting daripada wajah semata. Menurutnya, daya tarik perempuan justru terlihat dari cara berbicara, sikap saat menghadapi orang lain, dan kualitas yang dibawa ke dalam ruangan.
Banyak perempuan terjebak mengejar standar visual yang terus berubah, padahal standar tersebut sering kali tidak pernah selesai. Ketika fokus hanya pada tampilan luar, perempuan berisiko lupa membangun fondasi yang jauh lebih penting seperti wawasan, karakter, dan value pribadi. Perempuan modern perlu memiliki definisi cantiknya sendiri. Merawat diri tentu penting, tetapi tidak perlu mengorbankan jati diri demi validasi luar.
Membangun personal branding
Lalu, bagaimana membangun citra diri yang kuat? Naomi percaya confidence lahir dari pengalaman hidup. Rasa percaya diri tumbuh ketika perempuan berhasil melewati tantangan, bertahan dalam masa sulit, dan melihat dirinya mampu bangkit kembali.
Keberhasilan kecil pun berperan besar. Menyelesaikan target kerja, membangun bisnis, mengambil keputusan sulit, atau berani memulai sesuatu yang baru akan memperkuat cara seseorang memandang dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika nilai diri hanya bergantung pada penampilan, rasa percaya diri menjadi rapuh karena standar luar selalu berubah.
(Penampilan yang mendukung di tempat kerja. (Foto: Dok. Pexels.com/Emir Bozkurt)
Kecantikan yang mendukung
Penampilan idealnya menjadi alat pendukung, bukan sumber utama harga diri. Grooming yang baik dapat membantu perempuan merasa lebih siap, lebih profesional, dan lebih nyaman tampil di depan publik. Namun, kekuatan utama tetap datang dari kualitas diri.
Pesan Naomi sederhana namun relevan bahwa perempuan tidak perlu memilih antara cerdas dan menarik. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama penampilan tidak menjadi satu-satunya identitas. Pada akhirnya, perempuan yang paling berkesan bukan selalu yang paling sempurna tampilannya, melainkan yang tahu nilai dirinya dan mampu membawanya dengan percaya diri.
-