Di Tengah Badai Layoff dan Cerita Perempuan yang Bangkit



  • Tak ada yang benar-benar siap menghadapi kabar pemutusan hubungan kerja. Terlebih bagi perempuan yang tak hanya mengandalkan pekerjaan sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai wujud identitas diri. Namun di balik badai yang mengguncang karier, ada ruang untuk bertumbuh, belajar, dan menyusun ulang makna sukses.


    Pada sebuah Minggu pagi, A (35), seorang ibu tunggal dan kepala tim komunikasi digital, menerima pesan singkat dari atasannya: “Let’s hop on a quick call.” Dalam hitungan menit, pekerjaannya, yang menjadi kebanggaan sekaligus poros kehidupannya, menghilang. Gelombang layoff di startup tempatnya bekerja akhirnya menyentuh timnya. “Yang saya pikirkan pertama kali bukan gaji. Tapi siapa saya sekarang?” katanya lirih.


    Bagi banyak perempuan seperti A, kehilangan pekerjaan bukan hanya tentang finansial, tetapi juga tentang hilangnya identitas, rutinitas, bahkan rasa percaya diri. Tak sedikit dari mereka yang telah bekerja keras menembus ruang kerja yang maskulin, membangun karier dari nol, menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional, hanya untuk melihat semuanya goyah dalam sekejap.


    Fenomena Global, Dampak yang Spesifik

    Sejak 2023, dunia menyaksikan gelombang layoff massal, terutama di sektor teknologi, media, dan jasa. Di Indonesia, data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan lebih dari 13.000 pekerja di sektor formal terdampak selama tahun lalu. Namun angka ini belum mencerminkan seluruh realitas karena banyak perusahaan kecil hingga sektor informal yang tak tercatat secara resmi.


    Secara data, pemutusan hubungan kerja mungkin terlihat netral terhadap gender. Tapi kenyataannya, perempuan lebih rentan terdampak. Laporan Women in the Workplace 2023 oleh McKinsey menunjukkan bahwa perempuan, terutama mereka di level menengah atau dengan status part-time, lebih sering menjadi korban pertama dalam strategi efisiensi. Ditambah lagi, tanggung jawab domestik dan tekanan sosial membuat masa pemulihan perempuan pasca-layoff cenderung lebih berat.


    “Perempuan seringkali memiliki struktur pendukung yang lebih rapuh dalam dunia kerja, baik dalam hal kesempatan promosi, akses pelatihan, maupun jaringan informal. Ketika terjadi layoff, banyak dari mereka yang kehilangan lebih dari sekadar pekerjaan. Mereka kehilangan posisi yang susah payah dibangun dalam struktur sosial yang belum sepenuhnya adil,” jelas psikolog klinis Dewi Rahmadani, M.Psi., dalam wawancara bersama Her World Indonesia.


    Tekanan yang Tak Terlihat

    Tidak semua orang melihat lapisan emosi yang datang setelah kehilangan pekerjaan. Untuk perempuan, terutama mereka yang menjadikan karier sebagai ekspresi diri dan pencapaian personal, PHK bisa terasa seperti peristiwa kehilangan yang dalam, serupa dengan kehilangan hubungan atau tempat tinggal.


    “Yang paling berat itu bukan hanya kehilangan penghasilan, tapi kehilangan struktur hidup. Saya terbiasa bangun pagi, punya jadwal rapat, bekerja dengan tim. Setelah di-PHK, semuanya sunyi,” kata L (30), mantan manajer pemasaran yang terkena PHK tahun lalu.


    Dewi menambahkan, “Salah satu aspek yang kerap terabaikan adalah munculnya imposter syndrome pasca-layoff. Banyak perempuan mulai mempertanyakan kapabilitas dirinya, bahkan menginternalisasi bahwa mereka memang ‘tidak cukup baik’, padahal PHK seringkali lebih berkaitan dengan faktor eksternal seperti strategi bisnis atau restrukturisasi.”


    Saat Hidup Memberi Jeda

    Di minggu ketiganya menganggur, L mulai membuat jurnal pagi. Bukan untuk membuat daftar pekerjaan, tapi untuk merapikan pikirannya. Ia menulis apa yang ia rasakan, apa yang ia syukuri, dan satu hal kecil yang ingin ia coba hari itu. “Saya belajar diam. Bukan menyerah, tapi berhenti untuk mendengar suara hati saya sendiri,” katanya. Di tengah situasi sunyi setelah layoff, L menyadari bahwa ia terlalu lama mengejar validasi eksternal. Kini ia memikirkan kembali apa arti karier bagi dirinya, bukan bagi resume, bukan bagi orang lain.


    Berbeda dengan D, seorang product designer yang sempat merasa kehilangan “identitas urban” setelah PHK dari startup. Namun sebuah ajakan kopi dari teman lama memicu ide membangun platform digital untuk UMKM. “Saya merasa hidup lagi,” ujarnya. Kini D menjadi co-founder dari sebuah proyek sosial yang memberikan makna lebih dari sekadar pendapatan.


    Ada pula F, yang memanfaatkan masa jeda untuk kuliah online di bidang psikologi komunikasi. “Saya dulu sibuk menjadi versi ideal dari diri saya. Setelah layoff, saya mulai memilih untuk menjadi versi yang jujur,” katanya. Apa yang terlihat dari luar mungkin hanya peralihan status karyawan. Tapi dari dalam, ini adalah proses penyembuhan identitas. Bukan sekadar bangkit, tetapi berevolusi.


    Redefinisi Kesuksesan

    Banyak perempuan yang terkena layoff menyadari bahwa definisi sukses yang dulu mereka pegang seperti gaji besar, jabatan tinggi, kantor bergengsi sehingga perlahan bergeser. “Sekarang saya lebih peduli pada pekerjaan yang memberi waktu untuk anak, untuk tidur cukup, dan tetap bisa berkembang,” ujar D, yang kini bekerja sebagai konsultan lepas.


    Psikolog Dewi Rahmadani menjelaskan bahwa masa pasca-layoff bisa menjadi milestone untuk redefinisi identitas karier. “Saya sering menyarankan klien untuk melihat masa ini bukan sebagai akhir, tapi sebagai jeda. Jeda yang memberi ruang untuk mendengarkan kembali kebutuhan diri, bukan sekadar tuntutan eksternal,” katanya.


    Hal ini didukung juga oleh Journal of Career Assessment (2021) yang mencatat bahwa masa transisi kerja yang dimaknai secara reflektif justru bisa meningkatkan career adaptability, yaitu kemampuan individu untuk beradaptasi dan menciptakan makna baru dalam dunia kerja yang terus berubah.


    Bukan Akhir, Tapi Titik Awal Baru

    Layoff memang mengguncang rasa aman. Tapi banyak perempuan justru menemukan ruang untuk tumbuh setelahnya. Ada yang memulai usaha kecil, ada yang memilih pendidikan lanjutan, dan ada yang memutuskan untuk menyusun hidup dengan tempo yang lebih manusiawi.


    Kisah-kisah mereka menunjukkan bahwa karier bukan satu jalan lurus menuju puncak, tetapi jaringan pengalaman yang membentuk siapa kita sebenarnya dan bahwa value seorang perempuan tidak pernah ditentukan oleh satu pekerjaan atau jabatan, tetapi oleh bagaimana ia bangkit, memilih, dan membangun kembali dengan versi dirinya yang lebih utuh. Seperti yang dikatakan L dalam jurnal paginya, "Saya mungkin kehilangan pekerjaan, tapi saya tidak kehilangan arah. Saya hanya sedang menyusun ulang peta."